Rabu, 12 November 2008

Gagal Ginjal Kronis Diawali Diabetes / Hipertensi

Kesehatan - Gagal ginjal kronis adalah suatu kondisi di mana kedua ginjal mengalami kerusakan permanen dan tidak dapat menjalankan fungsi sebagaimana mestinya, umumnya ditandai dengan edema seluruh tubuh (edema anasarka) karena terjadinya hipertensi portal dan kadar klirens kreatinin.
Gagal Ginjal Kronis
Saat ini, penyakit gagal ginjal punya kecenderungan makin meningkat, biasanya, diawali hipertensi atau diabetes.

Menurut Dr Tunggul Situmorang, Direktur Medik RS PGI Cikini, Jakarta, laki-laki lebih banyak terserang penyakit gagal ginjal ktonis ini. "Dan sayangnya, baru datang berobat kalau sudah parah," katanya.

Padahal, lanjut Dr. Tunggul, sangat penting mempunyai ginjal yang berfungsi baik. Ginjal yang baik fungsinya memungkinkan bekerja sebagai pengatur komposisi cairan di tubuh kita agar seimbang. Selain itu, ginjal juga penting untuk mengatur keseimbangan asam basa dan tekanan darah.

"Biasanya kalau seseorang punya asam basa yang tidak seimbang, dia akan mudah sesak. Kalau tekanan daranhnya tidak baik juga kemungkinannya besar menjadi hipertensi," ujar Dr. Tunggul, sembari menambahkan bahwa ginjal juga berperan mengatur metabolisme tulang dan produksi sel darah merah.

Perhatikan Gejalanya!
Dalam paparannya di depan peserta program "Wujudkan Masayarakat Sadar Ginjal" yang bekerjasama dengan Kalbe Farma, akhir pekan ini, Dr. Tunggul Situmorang juga mengingatkan seringkali kita tidak waspada tanda-tanda terkena penyakit gagal ginjal.

Ia menguraikan, beberapa tanda fisik yang harus diwaspadai sebagai awal gagal ginjal adalah bila seseorang mulai merasakan gangguan pengecapan, mual, muntah, tidak nafsu makan, lesu, mengalami gangguan tidur dan juga sering gatal. Tanda lainnya, kulit menjadi kasar, sering kram, vena di leher melebar dan ada cairan di selaput jantung dan paru.

"Sementara, kalau kita lihat hasil laboratoriumnya, penderita gagal ginjal ini punya peningkatan asam urat, kalsium, fosfor dan kalium. Hati-hati kalau kaliumnya meningkat, karena memperbesar resiko penyakit jantung," kata Dr. Tunggul.

Hasil laboratorium juga akan menunjukkan protein darah yang turun, sesak napas dan tingginya kandungan fosfor dalam tubuh, sehingga menimbulkan gatal-gatal.

Terapi Penganti Ginjal
Banyak cara saat ini yang ditempuh untuk memperpanjang dan memperbaiki kualitas hidup penderita gagal ginjal, misalnya melalui transplantasi dan dialisis (pembersihan darah). Dr Tunggul menganjurkan agar penderita gagal ginjal menempuh dulu cara dialisis. Selama ini biasanya penderita melakukan hemodialisis, yaitu pembersihan darah dengan menggunakan mesin. Dengan cara ini, penderita harus selalu melakukannya maksimal 5 jam setiap terapi, dengan masa terapi 2 sampai 3 kali seminggu.

Kini, selain hemodialisis, ada cara yang lebih praktis yaitu Continuous Ambilatory Peritoneal Dialisis (CAPD), yaitu dialisis tanpa mesin dan dapat dilakukan secara mandiri oleh penderita gagal ginjal.

Metode ini merupakan metode alternatif dengan menggunakan membran semipermiabel yang berfungsi sebagai ginjal buatan, sehingga mampu menyerap cairan pembersih ke dalam rongga ginjal. Dalam waktu 4 sampai 6 jam dengan frekuensi 4 kali sehari, terjadi proses difusi serta ultrafiltrasi dalam ginjal, sehingga zat racun yang ada didalamnya terserap keluar dan diganti cairan baru.

"Dengan metode CAPD ini, proses cerna tidak terganggu dan sisa fungsi ginjal juga terus terpelihara. Kalau menggunakan mesin biasanya dilipih jika fungsi ginjalnya sudah sangat minimal, atau sekalian melakukan transplantasi," kata Dr. Tunggul, sambil menambahkan bahwa RS PGI Cikini sudah sejak 1984 menjadi rumah sakit rujukan untuk ginjal di seluruh Indonesia. Itulah sebabnya, Kalbe Farma bekerjasama dengan rumah sakit ini untuk mewujudkan masyarakat sadar ginjal.

Tidak ada komentar: